Kembalilah, ku merindukan-Mu

Tidak akan pernah ada orang yang siap menghadapi perpisahan, termasuk aku yang tidak pernah siap untuk kehilangan mu. Kamu masuk ke dalam hidupku, memberi banyak arti, melukis banyak warna, menyisakan banyak peluk, menyimpan banyak genggaman tangan. Betapa mudah kamu masuk ke dalam hidupku, semudah itu juga kamu mengacuhkanku.
            Kamu tentu tidak paham, kekuatan cinta selalu berhasil membahagiakan siapapun, juga selalu berhasil menyakiti kapanpun. Aku terbuai pada cinta yang kau bisikan di telingaku, pada rindu yang kau dengungkan dalam setiap percakapan kita, sayangnya itu tak bertahan lama – sekejap saja kamu ubah semua, dari nyata menjadi semu semata.
            Kamu mengaburkan pandanganku tentang cinta. Kamu mengubah duniaku yang telah berwarna kembali menjadi abu-abu lagi. Kamu membirukan segalanya, mengubah setiap candu jadi luka baru. Hatiku lebam-lebam, sementara kamu tidak peduli pada kondisiku yang kesakitan.
            Tidak bisakah waktu diputar ulang kembali, saat aku dan kamu masih saling sangat mencintai? Tidak bolehkah aku mengharapnya lagi, memelukmu seerat dulu? Hilangnya kasih sayang satu per satu rentan aku rasakan. Dimana pelukanmu? Dimana kepedulianmu? Dimana kangenmu? Dimana kamu? Seakan aku bukanlah sosok penting yang patut diperjuangkan. Aku bahkan seakan tidak berhak untuk dibahagiakan. Jika itu kepergianmu tentu saja menghancurkan, meremukan, dan meniadakan kenyataan.
            Aku terlampau melibatkan perasaan, memberi segalanya yang bisa kuberikan, berkorban apapun yang bisa aku lakukan, rela menunggu setiap jam untuk tau kabarmu, sayangnya segalanya tidak akan pernah cukup. Setiap tuntutanmu yang justru aku jalani dengan baik, segala keinginanmu yang justru telah aku wujudkan, malah membuatmu perlahan pergi tanpa alasan dan penjelasan.
            Kamu tahu, Sayang? Tidak ada yang lebih merasa kesakitan sebaik ini, daripada berjalan terlalu jauh, lalu kau tinggalkan di tengah jalan, sebelum kita berdua sampai di tujuan. Kamu meremehkan pentingnya sebuah kabar, sebuah perhatian, sebuah kasih sayang dan kepercayaan hanya untuk sesuatu yang kau anggap adalah kesibukanmu. Aku selalu ada pada posisimu, dengan semua kesibukan tugas-tugasku. Tapi, aku bisa tau mana waktu aku harus ngabarin kamu, mana waktu aku harus nyempetin ketemu kamu, mana waktu aku harus ngerjain tugas dan emang ga ngabarin kamu—tapi sebelum itu, aku selalu pamit kalau aku sibuk dengan tugasku. Karena kamu adalah salah satu dari prioritasku, dari semua prioritas-prioritasku.
            Sebercanda inikah aku mencintaimu? Saat kamu sengaja gak bisa bales chatku, tapi jemarimu bisa bermain instagram, seen path friends, main facebook, main games kesukaanmu. Aku ingin marah, membuang semua apa yang aku anggap kekesalanku—karena memang dulu kamu tidak pernah seperti itu. Aku ngerti, aku tersakiti dengan baik. Tapi, aku gamau bikin kamu marah kalau aku ngomong aku kenapa-kenapa—alasanku hanya gak  mau kehilanganmu dengan aku selalu permasalahin hal yang sama, sudah cukup hanya itu, kok.

            Harapku selalu menunggumu pulang, kembalilah.. aku merindukan-Mu. Bukan rindu chat yang selalu on time kamu bales, bukan rindu yang harus ketemu tiap waktu, bukan rindu yang aku harus nuntut kamu selalu ada buat aku. Bukan kaya gitu, kok. Pulanglah, dengan semua perhatian, kepedulian, dan kasih sayang tanpa ada yang harus kamu tutup-tutupin. Atur waktu mu dengan baik, dirimu memang berhak sibuk dengan masa depanmu. Tapi, jangan pernah lupain aku yang pernah bahagiain kamu.

–loveyou-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamu abadi dalam tulisanku.

Kamu adalah Harapanku yang Akan Segera Hilang