Kamu abadi dalam tulisanku.
Aku termangu di depan laptopku dengan sisa-sisa kekuatan yang aku
punya. Aku menyibukkan diriku demi melupakanmu.
Mungkin, kamu tidak akan pernah membaca tulisan ini. Tapi,
Christine-mu akan selalu menulis tentangmu, meskipun aku tahu—kamu tidak akan
pernah membacanya.
Kamu tidak akan pernah tau betapa tersiksanya aku menerima
kenyataan bahwa aku selalu menunggumu. Kamu tidak akan mengerti betapa dadaku
sesak setiap memikirkanmu. Kamu tidak akan pernah menyadari betapa rindu di
dadaku layaknya kelinci nakal yang memaksa keluar kandang meskipun tahu bahwa
dunia luar sungguhlah tidak aman untuk sang kelinci. Meskipun aku tahu duniamu
bukanlah dunia yang aman untukku.
Aku terpaksa menyiksa hari-hariku dengan beribu kesibukkan,agar aku
segera menghapus kehadiranmu di memori-memori otakku. Tapi kenyataannya, semua
itu sangatlah sukar. Apa yang bisa aku lakukan (lagi)? — perasaanku lelah untuk
mengetahui semua......semua yang ada namun jauh dari angan dan harapan yang
selalu merekah. Jemariku bergetar saat aku selalu memohon pada Allah tentang
dirimu. Mata ku membisu karena air yang tak henti-hentinya mengalir tanpa
alasan,tanpa sebab. Aku benci menguatkan batinku hanya untuk-MU.
Berhari-hari, aku berusaha mengisi waktu luangku dengan apapun yang
bisa aku kerjakan agar aku tidak punya waktu bahkan sedetik saja untuk
mengingatmu. Karena, kamu sudah begitu lekat disana, karena dirimu sudah punya
tempat tetap disana;di hatiku yang nyatanya belum dihuni orang lain selain
dirimu. Dan, aku belum menemukan cara terbaik untuk menghilangkanmu. Kamu
selalu kembali teringat lagi ketika aku berusaha mengusirmu pergi. Entahlah, mungkin
kamu memang diciptakan untuk tetap tinggal, meskipun sebenarnya kebersamaan aku
dan kamu tak lagi ada.
Salahkah jika ini berlebihan? Tapi,aku tidak bisa menahan diri
untuk tidak tertarik padamu. Semunafik itu kah aku? Ingin rasanya bibirku
berujar semua penat yang terasa, menyampaikan jutaan kata padamu,agar kau
mengerti betapa berjuangnya aku menyelesaikan masalah yang kecil untuk dilihat
namun besar untuk dirasakan ini. Seluruh perasaan yang tercurah bertarung
dengan keadaan sebenarnya, mencoba untuk tetap survive namun selalu
rapuh. Mencoba untuk fighting, tapi ingin jatuh.
Tulisan ini sungguh sangat tidak penting, hanya berisi tangis dan
keluhan seorang gadis berumur belasan yang meminta kejelasan. Lalu, apa artinya
chat kita hingga larut malam yang bisa membuatku tertawa tak henti itu? Lalu,
apa maksudnya kata-kata lembutmu yang bisa menyihirku dalam kesemuan? Lalu, apa
tujuan dari semua ketika aku mulai jatuh cinta lalu kau pergi seenaknya? Nah,
jika kamu membaca ini, tentu kamu akan balik bertanya “Memangnya kamu siapa?”. Aku
jelas bukan siapa-siapa dan mungkin aku hanyalah perempuan bodoh yang terlalu
menggunakan perasaan, yang tak berpikir bahwa berlian sepertimu tak mungkin
jatuh cinta pada tanah liat sepertiku. Seharusnya, aku memang sadar diri,
sejak awal percakapan kita itu, aku semestinya tak perlu berharap lebih.
Aku pun ingin berpikir logis, aku pun ingin menggunakan logika ku,
dan aku pun ingin tidak sepeka pria. Karena, menjadi perempuan peka sunggulah
melelahkan. Aku pun tak ingin berharap lebih, tapi aku sudah mencintaimu, dan
bagaimana caranya mengantisipasi semua luka jika kamu tidak akan pernah kembali
lagi untuk sekedar mengobati perihku?
Aku teramat jatuh cinta padamu dan rasanya sangat sulit menerima
kenyataan bahwa kita tidak lagi bercakap-cakap sesering dulu. Dalam
kesibukanmu, aku selalu menatap ponselku. Setiap ada pemberitahuan masuk,aku
hanya berharap itu kamu. Setiap sebuah chat masuk, aku berharap itu
darimu. Setiap ponselku berbunyi, aku berharap itu kamu. Dan, aku selalu
mengaharapkanmu.
Aku berharap itu kamu, wahai penghulu malaikat yang berperang
melawan setan dan kejahatan. Aku berharap itu kamu, racunku yang juga adalah
penenangku.
dari Christine-mu,
yang masih terus diam-diam;
menunggumu.
Komentar
Posting Komentar