Dan bersama kalian aku mengerti arti dunia

     Disela dinding-dinding yang telah tergores butiran debu, aku mengenal kalian untuk pertama kali. Wajah-wajah pria yang tampan dan wanita yang sungguh menawan, berseragam putih abu-abu melakukan kegiatan MOS bersamaku, sehingga menandakan bahwa mereka baru saja lulus dari sekolah menengah pertama saat itu. Terbayang banyak mimpi buruk ketika aku menginjakkan kaki untuk pertamakali di sekolah ini. Sebut saja namanya "SMA GEMA 45 Surabaya".
     Semenjak beberapa waktu berlalu,setelah kegiatan MOS telah terselesaikan tanpa ada rintangan yang cukup rumit. Semakin tertawa, semakin bersama dan semakin banyak pula ujian persahabatan antara satu sama lain. Masalah satu selesai, masalah-masalah lainpun muncul kembali. Kebesamaan dan kepercayaan yang hanya bisa mengalahkan masalah-masalah jahat itu agar tidak membenih kembali.


    Baru 6 bulan aku duduk di bangku kelas XI-IPA, namun aku sudah kehilangan 2 orang dari 4 temanku yang duduk dikelas XI-IPS dan kupikir akan menggandeng tanganku sampai bumi tak berbentuk bulat lagi. Namun, tuhan memiliki rencana lain. Kita dipisahkan bukan karena pertengkaran egois semata, tetapi karena keburukan mereka masing-masing yang membunuh mereka sendiri hingga berpisah dari dekapan kami. Bukan berniat menjauhi, tapi ada satu alasan yang tidak bisa mengembalikan kita seperti dulu lagi, dan untuk menyatuhkan pun terasa amat sulit sampai detik ini.

    Perkenalkan 2 orang temanku yang insyaallah akan menemaniku hingga ajal menjemput nyawa kami masing-masing. Yang pertama, namanya "Mita Dwi Rosari" cewek super gendut, cerewet dan melankolis ini hobi ngasih wejangan buat temen-temenya yang kurang nggenah. Mita kalau dikelas dipanggil "Mimi", siapa yang gak tahu makanan kesukaannya adalah pentol dan sejenisnya? bahkan laut dan daratan pun mengerti makanan yang membuat dia kesemsem setiap hari.

    Gujesss... ini yang kedua, namanya "Erliyana Putri Wardani" panggilannya kalau dikelas disebut "Mama". Alasannya dia dipanggil mama karena tingkah lakunya yang amat ke-ibuan. Mama giat jahitin apapun punya teman-teman yang robek, nyisir rambut teman cewek yang berantakan, betulin kerudung teman yang kurang enak dipandang. Dan, yang berdampak sangat positif adalah dia rela dihutangin saat dia pun gak punya uang. Sebenarnya dia ke-ibuan atau kepolosan,sih?

  Mereka berdua adalah salah satu dari beribu alasan aku menghirup udara sampai saat ini, mereka mengajarkanku arti pentingnya peduli satu sama lain, mengajarkanku beribadah saat adzan dhuhur berkumandang ditengah pelajaran dimulai, dan mereka juga yang mengenalkanku dengan arti dunia di muka bumi ini walau tak bersifat abadi. 


Terimakasih Mimi dan Mama untuk kemarin, 
hari ini, esok dan selamanya bersamaku 
walau mungkin kita akan terpaut jarak dan waktu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamu abadi dalam tulisanku.

Kamu adalah Harapanku yang Akan Segera Hilang